Tartaria Samudra

Just another WordPress.com weblog

dead poet society

Beberapa waktu yang lalu saat aku pulang ke kampung halamanku, yang masih tetap semrawut aku terpikir betapa memprihatinkannya keadaan kotaku ini. Walaupun hasrat geliat modernisme sangat terasa disini, rupanya tidak terlalu banyak pengaruhnya pada perkembangan “peradaban” disini.

Aku masih saja tertegun setiap kali mendapati di jalur-jalur nadi kota ini seiring bertambah padatnya hutan beton dan binatang2 besi yagn meraung-raung sepanjang jalan, semakin banyak nilai-nilai yang terbuang. Tak habis pikir, bagaimana bisa sebuah society berkembang pesat dalam hal ekonomi dan fisik tetapi tidak menunjukkan penignkatan, kalo bukan malah penurunan yang terjadi, dalam hal mentalitas dan nilai-nilai di dalam society itu sendiri.

Orang-orang disini semakin menjadi tidak peduli satu dengan yang lain. Tidak mau tau apa yang terjadi di luar dirinya, dan karenanya semakin lama mereka semakin terjebak pada dirinya sendiri. Menyusut, kecil, mengerat di dalam perlombaan mendapatkan remah-remah rejeki yang tersisa di sepanjang jalan.

Tidak lagi mereka melihat essensi apa yang mereka lakukan, apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak mampu lagi untuk melihat keluar dari lubang arena perlobaaannya. Sehingga agaknya akan semakin lama mereka menjadi boneka-boneka yang berjalan berdasarkan apa yang digariskan sang dalang.

Waton Muni

Cah, mumet gawe kalimat…

Tulisan Pertamaku

Ini adalah tulisan pertamaku. Selamat membaca!